Thursday, May 3, 2012

Catatan Kuliah : Relasi Manusia dan Komunikasi Antarpribadi


What is Relationship ? (Apa itu Relasi?)
(Sarah Trenholm : 2000)

1. Constellation of behaviors
    Relasi setara dengan tindakan yang saling tergantung antara 2 orang. Relasi adalah semua hal tentang apa yang dipikirkan oleh 2 orang manakala melakukan hal bersama-sama.

2. Cognitive Constructs
    Relasi sebagai suatu konstruksi kognitif di dalam pikiran kita manakala kita memikirkan satu sama lain. Relasi adalah cara kita memikirkan perilaku kita.

3. Mini-culture
    Relasi bukan sebagai pandangan individu, melainkan pemahaman bersama. Ketika 2 orang melakukan hubungan antar pribadi, mereka menciptakan kultur kecil-kecilan, mengembangkan persepsi bersama dan peran masing-masing.

4. Collections of Contradictory forces
    Relasi sebagai sekumpulan kekuatan yang saling berlawanan. Relasi adalah suatu dialog antar 2orang yang saling mempunyai perbedaan pandangan, masing2 pernyataan sebagai ungkapan hati, tetapi kenyataannya saling berbeda.

Creating an Effective Helping Relationship
(Bradford W Sheafor & Charles R Horejsi : 2003)
Apologi : penerapan metode dan teknik dalam praktek pertolongan sangatdibutuhkan, tetapi tanpa adanya relasi yang positif antara pekerjasosial dengan klien, perubahan pada diri klien tidak akan terjadi

Beberapa kondisi dasar dalam relasi pertolongan :
1. Empathy ;
menunjuk pada kemampuan pekerja sosial untuk memahamidengan tepat perasaan dan pengalaman subjektif yang dialami klien
• Mendengarkan secara aktif apa yang dikatakan klien, merupakanteknik untuk memunculkan empati terhadap klien
2. Positive Regard ;
Keyakinan bahwa klien adalah orang yang berhargadan memperlakukan mereka secara hormat, dengan mengabaikan ;penampilan mereka, perilaku, keadaan hidupnya atau memberikanalasan mengapa mereka menjadi klien.
Positive regard
diperlukanbagi pekerja sosial untuk menangkis kecenderungan memberikanpenilaian bahwa klien adalah orang yang telah berbuat kesalahan.
3. Personal Warmth ;
pekerja sosial harus menampilkan diri sebagaipribadi yang ramah/hangat
4. Genuineness ;
Pekerja sosial harus memperlihatkan keaslian yangmuncul secara spontan (tidak dibuat-buat), dan tidak bersikapbertahan, apa yang dikatakan harus sesuai dengan apa yangdilakukan, berbicara benar-benar keluar dari hati.
Guna mendemontrasikan perasaan
empathy, positive regard, personal warmth, dan genuine, maka beberapa hal penting bagi pekerja sosialdalam menciptakan relasi pertolongan yang efektif, juga harus :

  • Concreteness; mampu berkomunikasi dengan menyampaikangagasan dan pemikiran yang jelas dan spesifik 
  • Competence; berkompeten dalam melaksanakan tugas dan aktivitasprofesional 
  • Objectivity ; tidak biss dan mampu menghargai adanya pandanganyang berbeda


Core Communication and Relationship Skills
(Karent K Ashman & Grafton H Hull,Jr : 1993)
Beginning the Social Worker/Client Relationship
1. Verbal and nonverbal behavior (perilaku verbal dan nonverbal)
2. Eye contact (kontak mata)
3. Attentive listening (mendengarkan dg penuh perhatian)
4. Facial expression (ekspresi wajah)
5. Body positioning (posisi tubuh)
6. Warmth, Empathy, and Genuineness (ramah, empati, keaslian)
7. Gestures of greeting (jabat tangan)
8. Personal space (ruang personal)
9. Arm and hand movements (gerak lengan dan tangan)
10. Tone of voice (nada suara)
11. Dress and appearance (pakaian dan penampilan)

Catatan Kuliah : Etika dalam Komunikasi Antarpribadi


        Banyak peristiwa dalam kehidupan kita yang tidak kita sadari memiliki konsekuensi etis. Dengan mengingat manusia sebagai mahluk sosial yang denan sendirinya pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya, membuat manusia akan selalu berhubungan dengan orang lain, salah satu “jembatan” yang menghubungkan manusia sebagai individu dengan manusia-manusia lain dan dunia luar adalah komunikasi.
        Melalui komunikasi itulah manusia menyatakn dirinya, menyimak orang lain atau memahami berbagai keadaan lingkungannya. Oleh karena itu, komunikasi menjadi ciri penting manusia. Kemampuan berkomunikasi itu pulalah yang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lain yang ada di muka bumi ini.
Dunia bersama ini bisa memiliki dua makna

  1. Secara objective, dunia bersama itu adalah dunia yang kita tinggali ini. Kita dan orang-orang Peru tinggal di dunia yang sama, namun antara kita dan orang-orang Peru  itu tidak ada pertemuan yang melahirkan hidup bersama
  2. Secara subyektif, dunia bersama itu mengandung makna hidup bersama, misalnya orang-orang yang bertemu berdiskusi membahas latihan-latihan soal didalam satu kelompok belajar merupakan dunia bersama.

        Hidup besama tentunya akan membutuhkan etika. Secara sederhana, etika berkaitan dengan apa yang baik dan apa yang buruk atau apa yang patut dan yang tidak patut. Membantu orang lain merupakan pekerjaan yang baik. Mencelakakan orang lain merupakan pekerjaan yang buruk.
        Dalam pergaulan hidup manusia manapun pastilah ada norma-norma yang pesti ditaati. Norma itulah yang mengajar apa yang baik dan apa yang buruk atau apa yang patut dan tidak patut dilakukan oleh manusia. Sedangkan etika lebih banyak berkaitan dengan “teori nilai”, yakni menjelaskan  mengapa sesuait itu baik atau buruk.
        Aturan main tersebut bisa berbentuk adat istiadat. Bisa juga berupa tata krama dan tata cara. Etika praktis seperti itu sering diistilahkan sebagai etiket, yang sebenarnya lebih berkaitan dengan tata krama dan tata cara.

A. Isu – isu Etis Dalam Komunikasi
Berbohong merupakan salah satu isu pokok dalam etika komunikasi manusia, seperti yang dikemukakan Tubbs dan Moss, mendefinisikan kebohongan sebgai “suatu pesan yang sengaja menipu atau menyesatkan lewan komunikasi verbal. Dengan niat seperti itu maka bisa saja ada bagian-bagian informasi yang disembunyikan atau sengaja di hilangkan atau bisa juga menyajikan informasi palsu seolah-olah sebgai informasi yang benar.
Dalam relasi manusia, prasangka baik merupakan salah satu sendi yang menjaga berlangsung hidup bersama. Dengan berprasangka baik maka bisa dijalin relasi yang saling menghormati. Bukan relasi yang saling mencurigai atau bermusuhan.

B. Cara dan Tujuan
Jika kita dihadapkan pada pilihan menyimpan rahasia teman yang kita ketahui pecandu narkoba dengan alasan menjaga janji untuk tidak menyatakan pada siapapu atau menyampaikannya pada orang tua teman kita itu demi menjaga teman ktia itu maka prinsip jalan tengah kita bisa gunakan. Kita akan menyampaikan informasi tersebut dengan menyatakan pada orang tua teman kita bahwa jangan disebutkan informasinya dari kita melainkan dari hasil pengamatan orang tua kita sendiri.

Wednesday, May 2, 2012

Catatan Kuliah : Konsep Diri dan Komunikasi Antarpribadi

KONSEP DIRI
  Konsep diri pada dasarnya merupakan persepsi atas diri kita. Dalam mempersepsi diri itu, kita menempatkan diri kita sebagai subjek yang menanggapi diri sendiri sekaligus sebagai objek yang ditanggapi. Ringkasnya, saat kita mempersepsi diri sendiri, kita memandang diri kita sebagai subjek sekaligus objek. Dengan melihat pada diri kita sendiri itulah maka kita akan sampai pada kesimpulan dan penilain pribadi terhadap diri kita sendiri.
  Dalam konsep diri ini, kita bisa membayangkan bagaimana kita bercermin untuk mengetahui siapa sesunguhnya diri kita. Menurut Rakhmat (1985:124) menjelaskan proses bercermin diri itu melalui tahapan-tahapan berikut ini. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Ketiga, kita mengalami rasa bangga atau kecewa pada diri kita sendiri.
  Debes merumuskan konsep diri dengan mengutif Devito, ”merupakan gambaran siapa diri kita sebenarnya.” Menurut Debes, konsep diri juga dinyatakan sebagai keseluruhan gambaran tentang diri kita. Maksud keseluruhan gambaran disini mencakup diri psikologis, diri fisik, diri spiritual, diri sosial, dan diri intelektual.
  Sedangkan William D. Brooks (dalam Rakhmat, 1998:125) menyebut konsep diri sebagai ”persepsi-persepsi fisik, sosial, dan psikologis atas diri kita sendiri yang bersumber dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”. Berdasarkan definisi dari Brooks tersebut, kita bisa menguraikannya sebagai berikut.
  1. Persepsi fisik, yang berkaitan dengan bagaiman akita mempersepsi diri kita secara fisik. Apakah kita ini termasuk orang yang tampan/cantik, biasa-biasa saja atau jelek? Apakah badan kita terlihat gagah atau tidak menarik?
  2. Persepsi sosial, yang berkaitan dengan bagaimana orang lain tentang diri kita. Apakah ini termasuk orang yang mudah bergaul, cenderung menyendiri, disukai orang lain atau orang yang ingin menang sendiri.
  3. Persepsi psikologis, yang berkaitan dengan apa yang ada pada ”dalam” diri kita. Apakah saya ini orang yang keras pendirian atau keras kepala? Apakah saya termsuk orang yang bahagia karena apa saya bahagia?
  4. Pengalaman, yang terkait dengan sejarah hidup kita. Sejak mulai kita dilahirkan hingga usia saat ini tentu mengalami berbagai hal yang berpengaruh pada diri kita. Misalnya, kita menjadi keras kepala karena sering diperlakukan sebagai anak yang berada pada pihak yang salah.
  5. Interaksi dengan orang lain, yang terkait bagaimana interaksi dengan orang lain akhirnya membentuk persepsi psikologis bahwa dirinya termasuk orang yang tidak bisa bekerja.

PERSEPSI
  Rakhmat (1985:64) merumuskan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi juga membuat kita bisa mendapatkan makna dari stimuli indrawi kita. Misalnya, kita memperoleh informasi melalui indera peraba kita bahwa air minum yang ada digelas itu panas, meminumnya lebih dulu. Kita memiliki persepsi, meminum air panas itu tidak nyaman pada lidah kita.
  Persepsi itu dipengaruhi beberapa faktor, yaitu faktor-faktor personal dan situasional serta fungsional dan struktural. Disamping ada faktor lain yang juga menentukan persepsi, yakni perhatian (attention). Perhatian, tulis Rakhmat 1985:64) yang mengutip Kenneth E. Anderson adalah proses mental ketika stimuli atau rangkain stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Perhatian itu akan ditentukan oleh faktor situasional dan personal.
  Secara ringkas, bagai proses mempersepsi yang dipengaruhi berbagai faktor tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut.

Filter Unik Persepsi Individu
Gambar tersebut menjelaskan aspek lain dari persepsi, yakni adanya saringan atau filter yang unik bagi setiap individu. Disebut unik karena yang menjadi menyaring persepsi kita itu berbeda-beda untuk tiap individu. Filter tersebut ditentukan, antara lain oleh sikap, pengetahuan, nilai-nilai, keyakinan, ekspektasi, bahasa dan pendidikan. Misalnya, ada dua individu yang berbeda tingkat pendidikan, ekspetasi, dan sikap membaca berita-berita kriminalitas dikoran. Persepsi mereka atas dunia, tentunya akan berbeda. Individu yang satu memandang dunia menjadi semakin tidak aman. Sehingga kriminalitas terjadi di mana-mana. Individu yang satu lagi mempersepsi apa yang tampil di koran itu tidak mencerminkan keadaan, melainkan hanya melaporkan peristiwa yang dipandang akan menarik perhatian pembaca.

KONSEP DIRI DAN KOMUNIKASI
                Dalam komunikasi antarpribadi kita menemukan keunikan. Dalam komunikasi antarpribadi ada hal-hal yang – sebutlah bersifat otonom dan berbeda dari bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Dalam komunikasi antarpribadi juga terjadi interaksi sehingga komunikasinya tidak bersifat statis melainkanmerupakan kegiatan yang aktif dan terpadu di antara manusia. Dengan sendirinya, konsep diri orang yang berkomunikasi menjadi sangat penting dan berpengaruh terhadap berlangsungnya komunikasi yang dinamis itu.

Self-Disclosure dalam Komunikasi Antarpribadi
                Tubbs dan Moss (2000:12) mendefinisikan sebagai ”membeberkan informasi tentang diri kita”. Joseph A. Devito (1986) menyebut self-disclosure sebagai suatu bentuk komunikasi dimana informasi tentang diri kita yang biasanya disimpan atau disembunyikan, dikomunikasikan pada orang lain”. Sedangkan Fisher (1986:261) mendefinisikan self-disclosure  sebagai ”penyingkapan informasi tentang diri yang ada pada saat lain tidak dapat diketahui oleh pihak lain”. Sedangkan informasi yang diungkapkan pada umumnya merupakan informasi yang sangat mempribadi. Dengan demikian, melalui self-disclosure ini kita ungkapkan atau menyatakan diri kita terhadap lawan komunikasi kita.
                Dalam prosesnya, self-disclosure ini bersifat timbal balik (Griffin, 2003:135). Artinya, keterbukaan kita akan diimbangi juga oleh keterbukaan lawan komunikasi kita atau sebaliknya. Hal seperti ini berlangsung terutama pada awal relasi di antara dua manusia. Berdasarkan pandangan ini maka self-disclosure tidak akan terjadi apabila salah satu pihak yang terlibat dalam komunikasi menunjukan ketertutupan dirinya. Dengan demikian, apabila kita ingin melangsungkan komunikasi antarpribadi yang mengembangkan relasi pribadi yang baik maka diperlukan self-disclosure dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, Tubbs dan Moss (2000:13) menyatakan bahwa self-disclosure merupakan bagian integral dari komunikasi diantara dua orang sekaligus menjadi ciri dari komunikasi antarpribadi.


Friday, April 6, 2012

Catatan Kuliah : Komunikasi Nonverbal Dalam Komunikasi Antar Pribadi

KOMUNIKASI NONVERBAL DALAM KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

Dalam komunikasi antarpribadi, kita tidak hanya menyampaikan pesan secara verbal, tetapi juga secara nonverbal. Pesan-pesan nonverbal tersebut bukan hanya memperkuat pesan verbal yang disampaikan, terkadang malah menyampaikan pesan tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan untuk menafsirkan dan memahami pesan-pesan nonverbal tersebut. pesan-pesan nonverbal pun terikat pada lingkungan budaya tempat komunikasi berlangsung. Mimik wajah, gerak tangan atau sentuhan merupakan bahasa  tubuh yang banyak menyertai komunikasi antarpribadi. Selain itu, komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan dalam wujud sisiran/potongan rambut, model pakaian yang dikenakan atau jarak yang diambil antara komunikator dan komunikan dalam kegiatan komunikasi.

1. PENGERTIAN KOMUNIKASI NONVERBAL DAN BAHASA TUBUH

                Dalam daftar istilah Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif dinyatakan, komunikasi nonverbal adalah ”semua eksprsi eksternal selain kata-kata terucap atau tertulis (spoken and written word), termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan, karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak (Fiske, 2004;281). Sedangkan Harris (1990:7) menyebutkan komunikasi nonverbal diacukan pada bahasa tubuh, seperti gerak-gerik tubuh. Pengertian yang lebih ringkas diberikan Jandt (1998:97) yang menyebut komunikasi nonverbal sebagai ”pesan yang disampaikan tanpa menggunakan kata-kata”.
                Secara sederhana bahasa tubuh dapat diartikan, ”penyampaian pesan nonlisan yang menggunakan kemampuan seluruh anggota badan untuk menyampaikan pesan”, seperti menggunakan gerak tubuh, mimik wajah, isyarat tangan dan jarak tubuh. Pease (1987) menyebut bahasa tubuh itu mencakup mulai dari isyarat tangan, isyarat mata, posisi tubuh hingga jarak yang dibangun antara dua orang yang berbicara.

2. FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL

                Jandt (1998:100-101) menyebutkan beberapa fungsi komunikasi nonverbal dalam komunikasi manusia, yaitu sebagai berikut.
a.       Menggantikan pesan lisan, yang biasanya dilakukan bila situasi tak memungkinkan untuk menyampaikan pesan lisan.
b.      Menyampaikan pesan-pesan yang enak disampaikan secara lisan, penyampaian dengan menggunakan isyarat tanpa merasa menyinggung perasaan atau mempermalukan.
c.       Membentuk kesan yang mengarahkan komunikasi, ada saatnya kita mengelola kesan orang lain terhadap diri kita melalui pesan nonverbal.
d.      Memperjelas relasi, mengingat pesan komunikasi itu mengandung isi dan informasi tentang relasi.
e.      Mengatur interaksi, ini terjadi, misalnya manakala kita terlibat dalam percakapan antarpribadi.
f.        Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, isyarat-isyarat nonverbal dapat menjadi mata pesan yang mempengaruhi penyandibalikan (decoding) pesan.
Sedangkan Wood (1994:152-155) menyebut ada 3 (tiga) fungsi komunikasi nonverbal, yaitu:
a.       komunikasi nonverbal melengkapi komunikasi verbal;
b.      komunikasi nonverbal mengatur interaksi;
c.       komunikasi nonverbal membangun relasi tingkatan makna, yang pada dasarnya terdiri dari tiga dimensi-dimensi primer relasi tingkat makna, yaitu responsivitas, menunjukan suka-tidak suka, dan kekuasaan atau kontrol.

3. JENIS – JENIS KOMUNIKASI NONVERBAL

Jandt (1998:104-116) mencatat ada (9) sembilan jenis komunikasi nonverbal, yaitu sebagai berikut:
a.       Proxemics (Kedekatan), Istilah ini berasal dari Edward Hall yang mengambilnya dari kata Proximity (kedekatan) untuk menunjukan adanya ruang atau tetorial baku dan ruang personal yang kita gunakan dalam berkomunikasi.
b.      Kinesics (Kinesik), Istilah ini digunakan untuk menunjukan gerak-gerik atau sikap tubuh (gestures), gerak tubuh (body movement), ekspresi wajah, dan kontak mata.
c.       Chronemics (Kronemik), Istilah ini berkaitan dengan waktu. Ada yang memandang waktu itu berjalan linier atau mengikuti garis lurus yang bergerak dari titik awal menuju titik akhir.
d.      Paralanguage (Parabahasa), Istilah ini menunjuk pada unsur-unsur nonverbal sauara dalam percakapan verbal.
e.      Kebisuan, Istilah ini dipandang agak membingungkan karena membisu dipandang tidak berkomunikasi. Namun sebenarnya, dalam kebisuan orang mengkomunikasikan sesuatu.
f.        Haptics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan sentuhan dalam berkomunikasi.
g.       Tampilan Fisik dan Busana, Istilah ini menunjukan pesan nonverbal dapat juga berupa tampilan fisik dan busana yang dikenakan.
h.      Olfactics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan indera penciuman dalam berkomunikasi nonverbal. Bukan hanya bau wangi parfum, tetapi juga bau badan berpengaruh terhadap komunikasi.
i.         Oculesics, Istilah ini menunjuk pada pesan yang disampaikan melalui mata.

Dengan demikian, komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan-pesan nonverbal merupakan bagian dari setiap bentuk komunikasi manusia. Tanpa ada pesan nonverbal, kita akan merasakan komunikasi berlangsung hambar dan dingin karena fungsi komunikasi nonverbal yang amat penting dalam kegiatan komunikasi.

BAHASA TUBUH

                Bahasa tubuh pada dasarnya penyampaian pesan dengan menggunakan tubuh kita sendiri sebagai penyampai pesannya diluar mulut kita. Dalam berkomunikasi melalui bahasa tubuh, manusia menggunakan semua unsur komunikasi, kecuali ungkapan lisan. Sebagai bagian dari komunikasi nonverbal, fungsi-fungsi komunikasi nonverbal pun melekat pada fungsi bahasa tubuh.

A. EKSPRESI WAJAH
Baskin dan Aronoff (1980:104) menyebutkan sejumlah kondisi emosional yang tampak pada wajah yang sifatnya universal, seperti berikut ini:
a.       Tertarik. Emosi yang menunjukan senang yang mungkin terkait dengan observasi atas satu fenomena baru untuk pertama kalinya.
b.      Gembira. Ekspresi kesenangan atau kegembiraan, yang dekat dengan emosi positif yang sudah ada.
c.       Terkejut. Ini merupakan respons awal terhadap stimulus yang tiba-tiba muncul yang melebihi ambang batas.
d.      Takut. Ini yang terkait dengan naluri menjaga diri. Pada manusia ada tentang luas kemungkinan rasa takut mulai dari yang ancaman bahaya yang biasa-biasa saja hingga teror total.
e.      Kesedihan. Ekspresi kekecewaan terhadap beberapa peristiwa yang terjadi saat ini atau pada masa lalu, kekecewaan atas sesuatu yang tak bisa kita kendalikan sepenuhnya hingga hinaan atau cacian tentang diri kita yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan lebih baik.
f.        Marah. Ekspresi yang bersumber sari sesuatu yang mungkin membuat sedih yang ingin kita hindari. Juga merupakan ekspresi terbuka rasa permusuhan yang membentang mulai dari ketidak senangan yang biasa-biasa saja hingga amukan.
g.       Jijik. Ekspresi tidak bisa menerima atau merendahkan yang sangat kuat. Pengirim pesan ini melihat dirinya jelas lebih unggul dibandingkan penerima pesan.

B. MATA
Kepribadian yang kuat diidentikan dengan sorot mata yang tajam. Permainan mata juga dianggap sebagai bagian penting dalam perjuangan hidup. Konon mata manusia, akan membesar atau berkonsentrasi karena sikap dan suasana hatinya berubah dari positif ke negatif (Pease, 1987:93).

C. ANGGOTA BADAN
                Baskin Aronoff (1980:106) memyebutkan beberapa fungsi gerakan anggota tubuh dalam komunikasi. Fungsi tersebut adalah (a) mengilustrasikan apa yang kita komunikasikan, (b) menekankan pada apa yang kita komunikasikan, (c) menata interaksi dalam komunikasi, (d) menunjukan emosi, khususnya tingkat emosi, dan (e) untum menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kebutuhan emosional.
Bahasa tubuh merupakan bagian sangat penting dalam komunikasi manusia. Bahasa tubuh, sebagai bagian komunikasi nonverbal, juga menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami maksud komunikasi seseorangmelalui bahasa tubuhnya. Bahkan kita pun bisa memperoleh ”bocoran”mengenai kondisi emosilawan komunikasi kita melalui bahasa tubuhnya.
Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi antarpribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita. Pesan verbal diperkuat dengan pesan nonverbal atau bahkan untuk hal-hal yang kita rikuh menyatakannya bahasa tubuh atau pesan nonverbal menggantikan pesan verbal. Kerikuhan tersebut baik karena situasinya seperti ditengah keramaian atau pun karena memang isi pesannya seperti pesan yang bernada kritik terhadap orang yang dekat dengan kita.
               Dengan demikian, dalam komunikasi antarpribadi, bahasa tubuh memainkan peran penting. Penggunaan zona dalam komunikasi antarpribadi merupakan salah satu aspek penting bahasa tubuh. Kita akan membawa lawan komunikasi kita pada zona intim untuk menunjukan keakraban sehingga suasana komunikasi antarpribadi bisa terbangun. Kita pun menggunakan bahasa tubuh lainnya, seperti tatapan mata dan sentuhan. Ini menunjukan bahasa tubuh sangat penting dalam komunikasi antarpribadi karena bukan hanya membantu menyampaikan pesan tetapi juga menunjukan sikap kita terhadap lawan komunikasi.

Thursday, April 5, 2012

Catatan Kuliah : Komunikasi Kelompok dan Komunikasi Organisasi

PERSIAPAN KOMUNIKASI KELOMPOK

Beberapa dari komunikasi yang secara pribadi paling penting dan paling memuaskan terjadi di dalam kelompok kecil. Sifat dasar dan karakteristik ini kemudian kita pakai sebagai dasar untuk mempelajari empat jenis pokok kelompok kecil dan prosedur yang diikuti para peserta kelompok.
            Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan. Bisa merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan bisa pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah).

KELOMPOK KECIL
                Sekumpulan perorangan relatif kecil yang masing – masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka.
KELOMPOK PEMECAH MASALAH
                Sekumpulan individu yang bertemu untuk memecahkan suatu masalah tertentu atau untuk mencapai suatu keputusan mengenai beberapa masalah tertentu.
KELOMPOK NOMINAL
                Mengurutkan beberapa peringkat masalah penting dengan cara mengumpulkan kontribusi para anggotanya dan memprioritaskannya tanpa evaluasi atau diskusi.
KELOMPOK PENGEMBANGAN IDE
                Kelompok yang melakukan Sumbang saran yang merupakan teknik untuk menyelesaikan suatu masalah denang cara memunculkan gagasan sebanyak mungkin.
KELOMPOK PENGEMBANGAN PRIBADI
                Yang berusaha membantu para anggotanya untuk menyelesaikan masalah tertentu, seperti kecanduan alcohol, mempunyai orangtua peminum, atau mantan narapidana.
KELOMPOK PENDIDIKAN ATAU BELAJAR
                Tujuannya untuk memperoleh informasi baru atau keterampilan baru melalui pertukaran pengetahuan.

FORMAT KELOMPOK KECIL
                Kelompok kecil melakukan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel atau meja bundar, seminar, symposium, dan symposium – forum.
                Panel atau meja bundar. Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar. Mereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan layak untuk itu.



                Seminar. Dalam seminar,  anggota kelompok adalah “para pakar” dan berpatisipasi  dalam format panel atau meja bundar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang anggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka ini bisa diminta untuk menhajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik.
                Modifikasi lain dari seminar adalah format seminar dua – panel, yang terdiri dari panel pakar dan panel awam. Panel awam mendiskusikan topik, tetapi jika mereka memerlukan informasi teknis, tambahan data, atau pengarahan, mereka akan meminta bantuan kada anggota panel pakar untuk memberikan informasi yang diperlukan.



                Simposium. Dalam simposium, setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapkan, seperti halnya pidato didepan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai satu topik. Dalam simposium, pemimpin akan memperkenalkan para pembicara, mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain, dan bisa menyampaikan ringkasannya secara berkala.



                Simposium – Forum. Simposium – forum terdiri dari dua bagian: simposium, dengan pembicara yang sudah disiapkan, dan forum, yang mempersilahkan para hadirin untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara. Pimpinan akan memperkenalkan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara tanya jawab.


ANGGOTA DAN PEMIMPIN DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK

ANGGOTA DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK KECIL
Menurut Kenneth Benne dan Paul Sheats (1948) ada 3 klasifikasi kelas umum:
1. Peran Tugas Kelompok
        Peran tugas kelompok adalah peran yang membuat kelompok mampu untuk memfokuskan secara lebih spesifik dalam mencapai tujuan kelompok.
Kedua belas peran kelompok yang spesifik diuraikan pada tabel berikut.

Tabel Peran Tugas Kelompok


2. Peran Membina dan Mempertahankan Kelompok
        Peran membina dan Mempertahankan Kelompok, Kelompok merupakan satu unit yang para anggotanya memiliki hubungan interpersonal yang beragam. Kelompok dan para anggotanya memerlukan dukungan interpersonal yang sama sesuai yang dibutuhkan anggotanya. Peran Pembina dan mempertahankan kelompok merupakan fungsi untuk mendukung hal ini.
Membina dan mempertahankan kelompok dibagi menjadi tujuh peran spesifik

Tabel Membina dan Mempertahankan Kelompok
3. Peran Individual
         Peran ini menghambat kelompok dalam mencapai tujuannya dan lebih berorientasi pada individu daripada kelompok. Peran semacam ini sering diistilahkan dengan malfungsi, yang menghambat efektifitas kelompok baik dalam produktivitas maupun kepuasan pribadi.
Ada delapan jenis spsifik yang termasuk dalam peran semacam ini.


Tabel Peran Individual

PEMIMPIN DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK KECIL

        Dalam kebanyakan kelompok kecil, satu orang berperan sebagai pemimpin. Dalam kelompok lain, kepemimpinan bisa dipegang oleh beberapa orang. Lebih lanjut, sang pemimpin bisa ditunjuk atau secara otomatis muncul dalam proses perkembangan komunikasi. 

Gaya Kepemimpinan
Sebagai tambahan untuk melihat perhatian pokok dalam kepemimpinan, seperti yang kita lakukan dengan teori kepemimpinan situasional, kita dapat juga melihat kepemimpinan dari tiga gaya kepemimpinan: lepas kendali, demokratis, dan otoriter (Bennis & Nanus, 1985; Shaw, 1981).

  • Pemimpin lepas kendali. Pemimpin lepas kendali tidak berinisiatif untuk mengarahkan atau menyarankan alternatif tindakan. Akan tetapi, pemimpin ini lebih mengizinkan kelompok untuk mengembangkan dan melaksanakan sendiri pekerjaannya, bahkan termasuk juga mengizinkan untuk melakukan kesalahan. Pemimpin semacam ini menolak setiap wewenang yang diberikan.
  • Pemimpin Demokratis. Pemimpin demokratis memberikan pengarahan, tetapi mengizinkan kelompok untuk mengenmabngkan dan melaksanakan cara yang dikehendaki para anggotanya. Para anggota kelompok didorong untuk menentukan saran dan prosedur. Pemimpin demokratis merangsang timbulnya pengarahan sendiri dan aktualisasi diri pada para anggota kelompok.
  • Pemimpin otoriter. Pemimpin otoriter merupakan kebalikan dari pemimpin lepas kendali. Pemimpin semacam ini menentukan kebijakan kelompok atau membuat keputusan tanpa berkonsultasi atau memastikan persetujuan dari para anggotanya. Pemimpin ini bersifat impersonal. Komunikasi mengalir dari pemimpin ke pemimpin, tetapi jarang mengalir dari anggota ke anggota. Pemimpin otoriter berusaha untuk meminumumkan komunikasi antarkelompok, sehingga membuat peran pemimpin menjadi lebih penting.

        Diantara fungsi – fungsi tugas pemimpin adalah mengaktifkan interaksi kelompok, mempertahankan interaksi yang efektif, mempertahankan agar para anggota tetap pada jalurnya, memastikan kepuasan anggota, mendorong terjadinya evaluasi dan perbaikan, dan menyiapkan para anggota untuk siap berdiskusi. Pemimpin yang efektif menilai orang, mendengarkan secara aktif, bersikap bijaksana, memberi peghargaan, bersikap konsisten, mengakui kesalahan, memiliki rasa humor, dan memberikan contoh yang baik.

KOMUNIKASI ORGANISASI

Organisasi
        Suatu organisasi bisa didefinisikan sebagai sebuah kelompok individu yang diorganisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Jumlah individu sangat bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Ada yang beranggotakan tiga atau empat orang bekerja dengan kontak yang sangat dekat. Yang lainnya memiliki seribu karyawan tersebar diseluruh dunia. Apa yang penting dalam hal ini adala mereka ini bekerja didalam strutur tertentu.
Komunikasi Organisasi
Pengiriman dan penerimaan berbagai pesan didalam organisasi didalam kelompok formal maupun informal organisasi. Jika organisasi semakin besar dan semakin kompleks, maka demikian juga komunikasinya. 
Jaringan Komunikasi Organisasi
Gambar Jaringan Komunikasi Organisasi
  1. Struktur Lingkaran. Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.
  2. Struktur Roda. Struktur roda memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya dipusat. Orang ini merupaka satu – satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
  3. Struktur Y. Struktur Y relative kurang tersentralisasi disbanding denga struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi disbanding dengan pola yang lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas (orang ketiga dari bawah pada Gambar 20.2). tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua (orang kedua dari bawah). Anggota ini dapat mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
  4. Struktur Rantai. Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggotanya yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada diposisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada diposisi lain.
  5. Struktur Semua Saluran. Struktur semua saluran atau pola bintang hamper sama dengan struktur lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama umtuk mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkin adanya partisipasi anggota secara optimum.
Komunikasi ke Atas
        Komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hierarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau dari para dosen ke dekan fakultas.
Komunikasi ke Bawah
        Komunikasi ke Bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hierarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya.
Komunikasi Lateral
        Komunikasi Lateral adalah pesan antara sesame manajer ke manajer, karyawan ke karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak dibagian yang sama didalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi antara dua dosen sejarah perguruan tinggi yang sama. Komunikasi lateral memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah.
Kabar Burung
        Merupakan saluran yang informal dimana pesan mengalir didalam suatu organisasi.
Kepadatan informasi
        Merupakan situasi dimana informasi yang dikirim kepada setiap orang melebihi kapasitas orang itu untuk memprosesnya.

Tuesday, March 13, 2012

Catatan Kuliah : Komunikasi Antarapribadi dalam Komunikasi Manusia

1. PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI & DEFINISI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh komunkan dan komunikator secara langsung, tatap muka atau melalui media seperti texting, telephone, chatting, webcam dan lain lain yang memungkinkan bahwa terpisahnya jarak antar komunikan dan komunikator tidak menghambat komunikasi antarpribadi.
                Seperti yang dikemukakan David Coleman dalam kecerdasan jamaknya(multiple intellegence). Artinya, kemampuan interpersonal merupakan salah satu kunci sukses penting kehidupan manusia. Apabila demikian halnya, tentu sangat penting memiliki keterampilan komunikasi antarpribadi sebagai salah satu unsur relasi interpersonal.
                Tim borcher (1999) menjelaskan komunikasi antarpribadi ini dengan melihatnya dengan pendekatan konteksual dan pendekatan perkembangan dari pendekatan konteks komunikasi, komunikasi antarpribadi berlangsung dengan melihatkan harus beberapa orang, dan orang-orang tersebut memiliki kedekatan (proximity) secara fisik, menggunakan banyak saluran indra, dan umpan baliknya seketika. Padangan dengan pendekatan konteksualini tak memperhitungkan dimensi relasi diantara orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut. Dari sudut pandang ini, yang dinamakan komunikasi antarpribadi itu adalah komunikasi yang berlangsung diantara orang-orang yang sudah mengenal satu sama lain dengan cukup lama. Di sini titik tekannya ada pada keunikan manusia yang berkomunikasi, bukan pada tindakan manusia dalam dunia sosial.
                Adanya konteks – konteks dalam KAP yang membantu dalam proses KAP, Konteks relasional yang berkaitan dengan cara kita bereaksi terhadap orang lain, konteks situasi yang berkaitan dengan lokasi yang secara psikologis dianggap tepat, dan konteks budaya seperti istri yang mengikuti kemauan suaminya. Dalam komunikasi ini, bukan hanya proses menyampaikan pesan dari komunikator pada komunikan tetapi konteks yang mempengaruhi berlangsungnya komunikasi.
                Dengan demikian, dalam mempelajari komunikasi antarpribadi ini,kita akan memandang komunikasi antarpribadi bukan hanya dalam artian konteks, tetapi juga haus dalam artian perkembanganya. Kita juga bisa memandang komunikasi antarpribadi ini sebagai kegiatan yang tekait konteks tertentu, namun kedekatan yang terjadi di sini bukan hanya kedekatan fisik, tetapi lebih kedekatan spikologis,yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi, di sini, kita memandang komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung dalam konteks tertentu yang didalamnya pihak-pihak yang telibat memiliki kedekatan satu sama lain dan komunikasinya dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

DEFINISI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

                Kita bisa membuat definisi komunikasi antarpribadi dengan memahami dua kata yang membentuka istilah ini,yakni komunikasi dan antarpribadi.komunikasi, secara sederhana bisa kita artikan, sebagai pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan antarpribadi dapat diartikan  sebagai ”berhubungan dengan atau melibatkan relasi personal atau sosial yang mengembangkan sistem-sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan emosinal, dan cara-cara penyesuaian sosial”. Apabila dipandukan, kedua kata itu dalam istilah komunikasi antarpribadi maka bisa diartikan sebagai proses pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mengembangkan sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan secara emosinal, dan cara-cara penyesuaian bersama”.
                Ini berarti, dalam komunikasi antarpribadi ada relasi yang sifatnya pribadi diantara pihak-pihak yang berkomunikasi. Apabila maka diantara pihak-pihak yang terlibat saling mengenal secara pribadi maka komunikasinya makin bersifat personal(mempribadi). Apabila sebaliknya yang terjadi maka komunikasi yang berlangsung akan bersifat tidak mempribadi(impersonal). Apabila komunikasi diantara orang-orang dengan komunikasi yang berlangsung antara suami dan istrinya atau komunikasi yang berlangsung diantara sepasang kekasih.
                Rubin dan rubin (2001) dengan tegas menyebutkan komunikasi antarpribadi itu merupakan prilaku yang diarahkan tujauan (goal-directed). Tujuan disini muncul mengikuti motif yang terjadi dasar tindakan. Motiflah yang mendorong seseorang berperilaku untuk mencapai tujuannya. Sebenarnya, baik Baskin dan Aronoff  maupun Griffin , dalam definisi di atas juga menunjukan secara implisit bahwa tujuan  komunikasi merupakan pokok komunikasi antarpribadi.
                Dengan demikian,bisa dinyatakan bahwa komunikasi antarpribadi itu merupakan komunikasi yang bertujuan yang berlangsung diantara dua orang atau lebih dan suasana yang akrab dan masing-masing pihak yang berkomunikasi saling mempengaruhi.suasana akrab dan salin mempengaruhi diantara orang-orang yang telihat itu merupakan kekhasan komunikasi antarpribadi.


2. KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KOMUNIKASI MANUSIA

                Adakalanya manusia membutuhkan informasi tentang lingkungan sosialnya seperti perkembangan politik sehingga masuk kedalam konteks komunikasi massa. Akan tetapi, manusia pun membutuhkan informasi tentang dunia pribadi orang lain, seperti orang-orang yang memiliki relasi khusus, yaitu anggota keluarga, sahabat, atau kekasih sehingga memasuki konteks komunikasi antarpribadi.
                Komunikasi tersebut pada dasarnya merupakan pertukaran pesan dan pesan yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan orang yang terlibat di dalam komunikasi tersebut. Salah satu aspek yang terpengaruh oleh komunikasi adalah relasi diantara sesama manusia. Seperti sudah kita ungkapan sebelumnya, relasi inilah yang membedakan antara komunikasi antarpribadi dan komunikasi bukan antarpribadi. Meski sebenarnya, terkadang sulit juga untuk mengelompokkan secara pasti mana komunikasi yang antarpribadi dan mana yang bukan anatrpribadi atau inmpersonal. Karena bisa saja, komunikasi tersebut dari sisi relasi berada di tengah-tengah antara komunikasi antarpribadi dna komunikasi yang impersonal.
                Mengapa demikian ? sebab meski komunikasi pada dasarnya merupakan pertukaran pesan, namun bukan hanya pesan saja yang disampaikan dan dan terlibat dalam komunikasi. Derajat keakraban, komitmen, kepercayaan, kejujuran, keterbukaan,penerimaan, dan empati emosinal yang bebeda-beda dan berubah di dalam semua relasi juga terlibat dalam kegiatan komunikasi, khususnya komunikasi antarpribadi.
                Pesan juga tidak hanya disampaikan melalu kata-kata, atau biasa dinamakan komunikasi verbal. Akan tetapi, disampaikan melalui secara nonverbal, seperti mimik wajah, gerak tangan atau sorot mata. Kita bisa memahami apa yang disampaikan lawan bicara kita bukan hanya dari kata-kata yang diucapkan, tetapi juga fdari cara mengatakan dan intonasinya. Kata-kata menggunakapkan apa pesan yang disampaikan, intonasi menunjukkan bagaimana pesan disampaikan.
                Salah satu tujuan komunikasi  manusia adalah untuk mencapai kesamaan makna. Pesan yang kita sampaikan bisa tertangkap dengan baik maknanya. Apabila makna pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik maka kemungkinan terjadinya perubahan sikap, pendapat, dan perilaku pada lawan komunikasi menjadi makin besar. Kita tak mungkin mengharapkan terjadinya perubahan sikap dan pendapat apabila makna pesan tersebut tidak diterima dengan baik oleh lawan komunikasi kita.
                Dalam komunikasi antarpribadi ini,manusia bisa mendapatkan suasana komunikasi yang bener-bener manusiawi (human). Oleh karena dalam komunikasi antarpribadi,hubungan antarmanusia (human retions) merupakan warna utamanya. Bisa dikatakan , dengan gencarnya impersonal dalam kehiduan sehari-hari kita, komunikasi antarpribadi menjadi sarana untuk menemukan kembali diri kita. Dalam komunikasi antarpribadi manusia berhubungan dengan sesama manusia melalui suasana yang manusiawi. Ideal komunikasi yang didambakan banyak kalangan, termasuk konsep komunikasi tanpa kekarasan (non-violance communications) tang memperlakukan pihak yang terlibat dalam komunikasi itu sebagai manusia bisa di wujudkan dalam komunikasi komunikasi antarpribadi ini. Di sini manusia bisa menemukan kehangatan, keakraban atau ketulusan.
                Namun, yang tepenting di sini komunikasi antarpribadi sebagai salah satu bentuk komunikasi manusia juga melibatkan unsur-unsur pokok komunikasi, yakni pengirim, pesan,media, gangguan, penerima, efek, dan umpan alik. Unsur-unsur pokok tersebut penting untuk mendapat perhatian kita karena semua tindak komunikasi kita pada dasarnya menggunakan unsur-unsur poko tersebut.
               Dengan demikian, komunikasi antarpribadi sebagai salah satu bentuk komunikasi manusia memegang peran besar dalam kehidupan manusia. Keutamaan komunikasi antarpibadi adalah kemampuannya dalam mengubah perilaku. Meski komunikasi antarpribadi juga bisa mengubah sikap dan pendapat lawan komunikasi. Dimensi lain dari komunikasi antarpribadi ini adalah suasana akrab dan saling mempengaruhi di antara pihak-pihak yang berkomunikasi.



3. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

                Dalam komunikasi manusia sekarang ini, media komunikasi memang semakin penting perannya. Terutama media yang sering dinamakan sebagai hasil dari konvergensi/integrasi beberapa sistem komunikasi  yang tadinya terpisah. Awalnya, radio, saluran telekomunikasi, media cetak, media elektronik, satelit dan jaringan lahir apa yang dinamakan dengan media sendiri. Kini menyatu sehingga lahir apa yang apa yang dinamakan dengan media baru, yang memiliki kemampuan sebagai media komunikasi yang melebihi kemapuan media sebelumnya. Istilah media baru sendiri biasanya dipandang membingungkan karena pada awalnya semua media saat baru muncul merupakan media baru. Namun, istilah media baru di sini adalah media yang terbentuk karena konvergernsi/intergrasi sistem media tadi.
                Lahirnya media baru memungkinakan menjadi saluran komunikasi di antara dua orang yang akrab, saling mengenal , memiliki keterlibataab emosional, dan saling mempengaruhi bisa belangsung. Meski orang yang berkomunikai tersebut tidak berada pada ruang yang sama atau saling berhadap-hadapan secara fisik. Apalagi komunikasi antarpribadi dipandang pihak-pihak yang ada berkomunikasi saling berhadapan secara fisik atau bertatap muka maka tidak ada komunikasi antarpribadi dalam komunikasi diantara dua orang atau lebih menggunakan media komunikasi meski mereka akrab satu sama lain.
                Dengan perkembangan teknologi komunikasi, penggunaan wabcam  memungkinkan orang bisa menatap atau melihat wajah lawan bicaranya di layar monitor komputernya. Artinya, sebagian bahasa tubuh pihak-pihak yang berkomunikasi,khususnya mimik wajah, bisa terlihat. Artinya pesan-pesan komunikasi bukan hanya disampaikan melalui suara atau teks,melainkan juga melalui bahasa tubuh.
                Jadi, CMC harus  kita terima sebagai salah satu fenomema komunikasi manusia yang berkembang akibat perkembangan teknologi komunikasi. Ada aspek-aspek dalam komunikasi konversional yang berubah akibat CMC ini, termasuk cara kita melihat komunikasi manusia.

4. HUBUNGAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DENGAN KEGIATAN KOMUNIKASI LAIN.

                Pada dasarnya, ada bagian-bagian dari dunia privat kita yang di bawa kedunia publik dan ada pula bagian dari dunia publik ke dunia privat. Kita antara lain membawanya melalui komunikasi. Isi pesan dalam komunikasi antar pribadinya yang disampaikan kepada lawan komunikasi kita sebagian berasal dari komunikasi kelompok atau komunikasi massa dan begitu pula sebaliknya.
                Dengan  demikian, dengan memperhatikan dunia privat dengan dunia publik, sebenarnya manusia melakukan semua konteks komunikasi, melalui dari komunikasi intrapribadi hingga kominikasi massa. Oleh karena antara duia privat dan dunia publik itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi maka kegiatan mengkomunikasikan dunia privat dan dunia publik itu berlangsung dalam suatu taraf dan konteks komunikasi. Isi pesan yang disampikan dalam komunikasi antarpribadi bisa disampaikan kembali dalam komunikasi kelompok atau komunikasi massa dan begitu pula sebaliknya.

Wednesday, November 23, 2011

Catatan Kuliah : Perilaku Sosial dan Faktor yang Mempengaruhinya


Perilaku manusia 


Sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adatsikapemosinilaietikakekuasaanpersuasi, dan/ataugenetika.
Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatutindakan sosial manusia yang sangat mendasar. Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain. Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif.

 Sumber : WIKIPEDIA

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.

Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.
Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia.

Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen. 
1. Komponen Afektif
merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya. 
2. Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
3. Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak

sumber : http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/03/faktor-personal-yang-mempengaruhi.html